WELLCOME TO MY LITTLE FAMILY

My Little Family- My Little Family- My Little Family- My Little Family-My

Kamis, 13 Mei 2010. In Memorial my Life

In Memorial my life:

Ketika waktu berjalan terus dan berputar merubah era kehidupan dari kehidupan anak balita, berubah menjadi kehidupan anak muda terus bergulir menuju kehidupan manusia yang lebih dewasa, dan lebih meningkat lagi yaitu menuju kehidupan berkeluarga. Itulah proses kehidupan yang kebanyakan orang menjalaninya. Kehidupan-kehidupan pada eranya menggoreskan kenangan dalam benak kita semua dengan kenangan-kenangan yang berbeda-beda sesaui apa yang menjadi latar belakang kehidupan itu sendiri. Kenangan yang susah, ada kalanya kenangan yang menyenangkan, kenangan pahit juga ada juga kenangan manis, kenangan yang hiteris maupun kenangan yang ringan dan lucu. Kesemuanya itu terbungkus dan dikemas dalam wadah “ Memori Kehidupan “ .

Ketika bayi dilahirkan oleh seoang ibu, waktu jam berapa? Siang atau malam? Hari apa? Tanggal berapa, Bulan apa? Dan tahun berapa? Saat itu ketika dilahirkan di dunia dengan suara tangisan oek...oek...oek , semuanya itu kita tidak ada yang tahu.( kita menjadi tahu hanya dari cerita ibu setelah kita mempunyai nalar).Itulah proses kehidupan dari tidak tahu menjadi tahu itupun hanya dalam bentuk cerita yang tidak bisa kita semua melihatnya dengan mata kita sendiri saat kita dilahirkan. Begitu pula saat kita di bisikkan suara adzan di dekat telinga, kita semua tidak mendengar saat itu, mencium aroma dengan hidung, merasakan dengan lidah dan sebagainya dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak dengar menjadi dengar, dari tidak lihat menjadi melihat itu semua adalah kebesaran Allah yang Maha Kuasa, Maha melihat, Maha mendengar dan Maha segalanya. Untuk itu sudah sepantasnya bahwa kita semua wajib bersyukur dan bersujud kepadaNya. Tidak ada lagi tuhan selain Allah yang patut kita sembah.

Ketika saya di Sekolah Dasar (SD) sampai dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP), yang menjadi memori adalah ibu saya yang selalu membangunkan dan mengajak saya untuk bersholat malam (Sholat Tahjud) diantara pukul 00.30 – 02.00 WIB. Seorang ibu yang telah melahirkan 9 (sembilan) anak yang menjadi saudara kandungku, merupakan sosok ibu yang taat beribadah dan sabar dalam membimbing putra-putrinya, meskipun dalam kondisi ekonomi yang serba pas-pasan dari hasil kerja seorang bapak sebagai Tentara Nasional Indonesia ( CPM ) dan ibu yang berjualan pakaian di Pasar Ngawi. Dengan gigihnya kedua orang tuaku membanting tulang untuk menghidupi putra-putrinya dengan disertai doa seorang ibu yang mulia, menjadikan putra-putrinya bisa menerima keadaan dan malah menjadikan kebersamaan kami dalam kesederhanaan, kekompakan dan saling bantu membantu dalam melaksanakan tugas-tugas di rumah misalnya dalam hal mencuci pakaian, mengisi bak air untuk mandi dengan menimba air dari dalam sumur.(catatan saat itu belum ada air PAM dan belum punya mesin penyedot air (jet pump, sanyo). Karena selisih umur antara kakak dan adik rata-rata 2 tahun, sehingga menjadikan pola pikir yang relatif tidak jauh beda.Yang bisa diambil hikmahnya disini sifat kebersamaan dalam kehidupan baik dalam kondisi susah atau senang. Ketika bapak saya mendapatkan nasi angsulan dari kenduri saat itu saya masih kelas 2 SD, ibu selalu mendulangnya satu demi satu kepada anak-anaknya yang masih kecil-kecil dikandung maksud bisa rata, semua mendapatkan dan merasakannya serta tidak saling berebut. Kenangan yang tidak terlupakan adalah sukanya saya bermain ketapel mencari burung emprit atau burung apa saja dengan cara menembaknya dengan kerikil yang dilontarkan pakai ketapel (bahasa jawanya plintengan), jalan berkeliling menerobos semak-semak atau kebun tetangga. Saat itu memang saya tergolong titis dalam mengeles burung pakai ketapel, dan bila telah mendapatkannya kemudian dibakar ramai-ramai dengan teman-teman. Dalam bermain ketapel ini, saya dan adik beserta teman-teman lainnya berjalan menerobos kebun-kebun menyebrang sungai sampai kurang lebih 7 km menuju tempat kolam renang bernama “ Pemandian Tawun “. Di kolam renang itulah akhirnya saya dengan nyuri-nyuri tanpa ijin orang tua, bisa berenang. Tentunya tidak seketika itu saya bisa berenang, sering saya lakukan dengan alasan bermain ketapel di kebun belakang, terus mlirit jalan menuju ke kolam renang itu padahal jaraknya 7 km dari rumah ke kolam renang tersebut. Kenangan yang lain adalah ketika saya melihat latihan Terjun Payung dari kesatuan Arteleri Medan ( ARMED ) di lokasi desa Karangasri dengan jarak dari rumah 5 km kearah tenggara, saking panasnya udara saya merasa kehausan ketika dalam perjalanan pulang dan tidak membawa uang saku, selanjutnya saya ke sungai dengan “cara menggeruk pasir di pinggiran sungai kemudian air yang masuk saya saring dan saya minum”. Uih.....segarnya ...Alamku .... Sungaiku ketika itu sungai belum banyak tercemar. Lain halnya, kenangan ketika saya mengejar layangan yang putus jatuh di kebun belakang dan terpaut (bahasa jawanya temangsang) di pohon pisang. Saya berusaha untuk mendapatkannya dengan melongok dan melihat-lihat keatas, tiba-tiba telapak kakiku “ disengat (dientup) oleh kalajengking (Ketonggeng atau bahasa latinnya Scorpio) “. Kemudian saya kaget dan lari tunggang langgang dengan berteriak aduuuh...! kakiku dientup Kalajengking. Kemudian saya gosok dengan balsem akhirnya tertidur sampai sore dirumah. Akhirnya kita sudahi dulu kenangan era SD. Beralih pada era SMP, ketika saya menginjak di SMP kegemaranku dalam mellukis berkembang karena mendapatkan guru lukis yang membina dan mendidik saya dalam goresa-goresan diatas buku gambar. Ketika saya duduk dibangku SMP , banyak waktu yang saya gunakan untuk belajar melukis di bapak yoto yaitu seorang pelukis profesional baralamat di kelurahan Margo Mulyo tepatnya di jalan A. Yami. Bapak yoto itu adalah bapak dari temen sekelas saya yang bernama Sugeng Mitrawan , dan bersama Suharto rekan yang lain tiap pulang sekolah sering belajar melukis di rumahnya. Sedikit-sedikit kegemaranku dalam melukis berkembang dan ketika dalam acara HUT Kemerdekaan Republik Indonesia diadakan lomba melukis tingkat SMP sekota Ngawi yang diadakan di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) waktu itu, saya melukis dengan menggunakan water calor (cat air) yang saya goreskan di atas kertas gambar berukuran A3 dengan judul lukisan “ Memancing “ . dinilai oleh dewan yuri sebagai juara I (satu) tingkat SMP se Kabupaten Ngawi.

Setelah lulus SMP, dengan pertimbangan bahwa prestasi raport saya sejak kelas 1 (satu) sampai kelas 3(tiga) menunjukkan sangat bagus nilainya, saran dari kakak saya yang paling sulung untuk melanjutkan Sekolah SMA di yogyakarta. Selanjutnya saran tersebut saya setujui dan berangkatlah ke yogya bersama kakak saya ke 2 yang kebetulan dia sudah indekost dan kuliah di yogyakarta. Sekolah Menengah Atas (SMA) yang saya ikuti tes adalah SMA 4(empat), SMA 3B, SMA 6, dan SMA BOKRI I. Ketika itu ada perbedaannya antara pendidikan di Kota Ngawi atau kota-kota kecil lainnya dengan pendidikan di kota yogya , antara lain di Yogyakarta sudah menggunakan mata pelajaran matematika, sementara di asal sekolah saya masih aljabar. Sehingga saya belum mengenal apa itu yang namanya himpunan dan istilah lainnya dalam ilmu matematika. (catatan : perbedaan itu pada tahun 1977) . Dengan adanya perbedaan tersebut saya merasa grogi sehingga tidak bisa konsentrasi dalam belajar menghadapi tes / ujian seleksi masuk SMA. Sehingga dari hasil tes dari ke 4(empat) SMA yang saya daftar, dalam pengumuman yang di tempel dinyatakan saya tidak diterima. (disitulah meskipun saya merasa minder dengan perbedaan pendidikan dan kehidupan, namun sudah berusaha seoptimalnya).

Kemudian saya pulang dan mengikuti tes / ujian seleksi SMA I di Ngawi. (catatan : saat itu baru ada 1 (satu-satunya) SMA yang berlokasi di kota Ngawi). Dari hasil ujian / tes tersebut, saya dinyatakan diterima. Saat itu tahun 1977, mulailah saya sekolah SMA I yang berlokasi di selatan Setadion Ngawi di Desa Beran. Pada pertengahan perjalanan ada perubahan nama sekolah dari SMA menjadi SMPP, sehingga setelah penjurusan IPA atau IPS, kemudian yang jurusan IPA pindah di gedung barunya berlokasi di desa Klitik. Karena gedung untuk jurusan IPS belum selesai, maka yang jurusan IPS masih tetap menempati gedung lama. Gedung SMPP yang baru, jaraknya lebih jauh kurang lebih 7 km dari rumah. Saat itu saya sekolah menggunakan sarana transportasi dengan sepeda onthel. Bersama-sama dengan teman-teman beruntunan bersepeda menuju sekolah dalam rangka menuntut ilmu. Memang sedikit berbahaya bersepeda melewati jalan raya sebagai jalan utama antar propinsi, sehingga selalu bersimpangan dengan bus-bus atau kendaraan besar lainnya. Di sekolah ini saya masuk pada jurusan IPA-1 dengan jumlah 30-40 an siswa. Pada kegiatan di sekolahan ini, bagi saya hanya sedikit yang menjadikan kenangan salah satunya dalam rangka memperingati hari Pahlawan dengan agenda acara gerak jalan long mars dengan jarak tempuh 30-an km, ( Start dari Desa Mantingan Kec. Mantingan yaitu perbatasan Jawa Tengah dan Jawa timur menuju finish di Alun-alun Kota Ngawi ) . Dalam gerak jalan long mars itu dikomandani oleh kakak kelas saya bernama Jondan. Selain itu yang menjadikan kenangan adalah kegiatan kelompok belajar di luar sekolah dengan sebutan nama “ DHASSPAN “ ( Singkatan dari nama Didik, Heru, Agus , Sasmoko, Sidik Wicaksono, Prihartanto, Agus Sutikno dan Nanang Haris ). Tempat kegiatan kelompok belajar ini sering dilaksanakan di rumahnya rekan yang namanya Didik Purwanto di jalan Jend. Sudirman tepatnya di sebelah barat SD Margomulyo saat itu. Yang menjadikan kenangan dalam kelompok ini adalah bersepeda bersekolah dan kegiatan pada saat kita akan “ Praktikum Biologi tentang Kodok “. Sehingga kelompok ini malam-malam berkeliling ke saluran-saluran, sawah-sawah dari desa ke desa dengan menggunakan lampu senter ataupun lampu petromak (istilah waktu itu) untuk mendapatkan kodok sebagai bahan praktikum biologi esok harinya. Selain itu kenangan juga dalam Class meeting (antar kelas) dalam rangka memperingati Hari Kartini saat itu diadakan “ lomba Volks song “ dengan lagu yang ditampilkan adalah lagu daerah yang kebetulan saya diberi tugas memainkan bas gitar bersama Eko sebagai melodi, Agus sutikno sebagai kendang, dengan lagu Es lilin. Dengan latihan yang dadakan dan alakadarnya menjadikan kelompok ini tersingkir tidak mendapatkan piala kejuaraan. Selanjutnya pada tahun 1979, dalam rangka Hari Ulang Tahun ke XIII Ikatan Dharma Wanita (IDHATA) Departemen P dan K Cabang Kabupaten Ngawi, saya memperoleh kejuaraan I (Pertama) Kelompok C dalam judul lukisan saya “ Ke Pasar “ ,dengan bahan lukis kain kanvas dan cat minyak untuk lukis. Pada tahun 1980 dalam rangka memeriahkan dan mengagungkan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke XXXV memperoleh juara III dalam lomba seni melukis Tingkat SLTA di Kabupaten Ngawi. Kenangan yang lain diluar sekolah adalah dalam membantu seperti kelompok remaja / pemuda di Jalan Patiunus, (kebetulan itu alamat rumah rumah saya) dalam mengadakan kegiatan gerak jalan dan mengadakan Stand Pameran seni dan budaya dalam angka HUT Proklamasi Kemerdekaan RI di Alun-alun Ngawi. Dalam pameran pembangunan tersebut diisi hasil karya seni para remaja dan sebagian lokasi dibuka stan restoran sate kelinci. Itutlah kenangan tinggal kenangan sebagai kehidupan saat saya masih duduk di bangku sekolah.

Ketka saya di Geodesi

Jumat, 14 Mei 2010

Ketika saya di Geodesi :

Ketika saya lulus dari SMA pada tahun 1981, saya ingin melanjutkan kejenjanjang sekolah diatasnya dan yang menjadi pilihan saya adalah Teknik Arsitek Univesitas Gadjah Mada di Kota Pelajar Yogyakarta. Setelah mengikuti penyaringan seleksi penerimaan mahasiswa baru istilah saat itu ( Perintis I, Perintis II, Perintis III, Perintis IV) tidak diterima, sayapun tidak ingin mendaftar di Perguruan Tinggi Swasta dikarenakan saat itu biaya untuk mengikuti kuliah di swasta mahal. Selain mahal, saya sama sekali tidak ada niatan masuk ke swasta, yang ada dipikiran saya satu yaitu UGM dan untuk mendaftar kerjapun saya tidak mempunyai skil atau ketrampilan bekerja. Akhirnya saya pilih satu tahun menganggur dan mendaftar bimbingan tes selama 1 tahun di Neutron di jalan Taman Siswa Yogyakarta, guna mempersiapkan kemauan saya untuk mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa PTN UGM tahun berikutnya tahun1982. Ketika tiba saatnya tahun 1982, usaha dan doa saya selama itu serta doa dari orang tua dan saudara-saudaraku, pada saat itulah tepat pada bulan Romadhon (bulan puasa bagi umat muslim), saya berangkat ke yogyakarta selepas saur dengan menggunakan kendaraan bis umum hanya sekedar melihat pengumuman hasil seleksi penerimaan PTN. Ketika sampai Yogyakarta dan melihat daftar nama-nama yang terpampang di selebaran koran dengan tulisan huruf tercetak sangat kecil, saya melihat pada daftar / kolom pilhan saya yaitu T.Arsitek dan T.Geodesi tercetak nama saya bahwa saya diterimanya. Seketika itu saya terharu “ meneteskan air mata “. Alhamdulillah saya akhirnya diterima di Teknik Geodesi UGM meskipun itu sebagai pilihan ke dua (pilihan pertama saya Teknik Arsitek). Selain itu di Teknik Perminyakan UPN yogyakarta juga diterima, (catatan mengapa pada tahun ini mendaftar di PT Swasta? Saya tidak ingin menganggur lagi), kemudian di Fakultas Pertanian UNS diterima sebagai cadangan. Dari ketiga pilihan tersebut tentulah UGM yang menjadi pilihan dan tujuan saya sejak dari SMA. Selanjutnya mulailah saya mendaftar ulang (Regestrasi) untuk mencatatkan diri pada panitia penerimaan di Gedung Grafika, jalan Grafika tepatnya sebelah utara RS. Sarjita. Setelah itu menjalani tes kesehatan sebagai salah satu persyaratan. Setelah registrasi selang beberapa bulan, mulailah saya masuk kuliah pada T. Geodesi, di kampus Fak. Teknik yang berlokasi di belakang kampus F.MIPA. dan bertemu dengan rekan-rekan angk sejumlah 55 mahasiswa baru. Daftar Nama Rekan Angkatan 82 Teknik Geodesi dan segala cerita kenangan selama kuliah dan kegiatan lain bisa dilihat pada Blog saya di http://maztanto82wajahgeodet82gama.blogspot.com/

Ketika mengikuti kuliah tiap-tiap semester dan mengikuti ujian semester hasil nilai yang saya peroleh selalu cukup, kadang kurang, sehingga saya selalu mengambil SKS dengan jumlah relatif sedikit sesuai yang dipersyaratkan dalam ketentuan akademis. Dua tahun pertama alhamdulillah lolos dari persyaratan dari ketentuan akademis yaitu (bila tidak memenuhi persyaratan minimal matakuliah yang ditentukan dengan jumlah Indeks Prestasi komulatif minimal 2,0 di “ Drop Out ( D.O ) “ ). Di angkatan 82, saya tergolong mahasiswa dengan nilai yang pas-pasan dibandingkan dengan rekan-rekan lain. Hal ini mungkin karena latar belakang saya yang serba pas bahkan kurang mendukung dalam proses belajar sehingga bepengaruh pada psikologis saya. Semester demi semester saya jalani meskipun dengan tertatih-tatih saya berusaha untuk mendapatkan nilai yang baik, tetap aja hasilnya pas-pasan... yah memang kemampuannya segitu. Empat tahun berjalan, pada tahun 1986 ada intruksi bahwa pemberlakuan diterbitkannya ijazah Sarjana Muda akan berakhir dengan maksud tahun setelah itu tidak ada lagi ijazah Sarjana Muda. Ketika diinformasikan oleh sekretariat pada tahun itu kepada mahasiswa yang memenuhi syarat akademis dan yang berkeinginan untuk mendapatkan ijazah segera mendaftarkan untuk yudisium Sarjana Muda. Ternyata saya lagi-lagi dengan nilai pas-pasan memenuhi peryaratan yang ditentukan, sehingga pada tahun itu mendapatkan Ijazah Sarjana Muda. Pada tahun 1987 , tanggal 12 bulan Agustus saya mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Botoputih, Kecamatan Tembarak, Kabupaten Temanggung selama 2 (dua)bulan. Tentunya pada saat itu teori-teori matakuliah sudah selesai tinggal mengulang nilai-nilai yang kurang baik. Selesai melaksanakan Kuliah Kerja Nyata yang berakhir tanggal 13 Oktober 1987, setelah itu saya melaksanakan Kerja Praktek yang disyaratkan secara akademis, dan mendapatkan tempat untuk kerja praktek pada PT. Geo Jaya Tehnik di Jakarta selama kurang lebih 2(dua) bulan. Setelah selesai kerja praktek, kemudian saya membuat dan menyusun Laporan Kerja Praktek dengan judul “ BEBERAPA PERSOALAN PEMOTRETAN UDARA SKALA 1 : 10.000 DI DAERAH JAWA TENGAH DAN JAWA BARAT “ . Yang saya selesaikan pada bulan Maret 1988. Setelah itu, mulailah saya cari-cari tema untuk pembuatan proposal sebagai bahan ajuan skripsi syarat kesarjanaan. Di periode inilah saya lama tidak selesai-selesai dalam membuat skripsi. Dasar saya kurang kretif dan tidak banyak ide atau gagasan dan serba pas-pasan. Namun pada akhirnya proposal saya disetujui untuk dilanjutkan sebagai bahan skripsi. Mungkin diantara skripsi-skripisi lain yang paling sederhana dan masih berpola manual adalah skripsi saya yaitu dengan judul “ UJI HASIL PLOTTING FOTO TEREKTIFIKASI DENGAN ALAT SKETSMASTER VERTIKAL TYPE 260 GE “ . Dalam pelaksanaan penelitian ini saya mendapatkan ijin dari Direktorat Pajak Bumi dan Bangunan, untuk meminjam alat Sketsmaster type tersebut untuk digunakan penelitian sebagai bahan skripsi dan bahan foto udara skala 1 : 10.000 didapatkan dari PT. Geo Jaya Tehnik dengan mengambil sampel pada daerah Kabupaten Indramayu, Kecamatan Jatibarang, Desa Bulak Lor dengan nomor foto 33 Run 1900 Dan akhirnya selesai juga skripsi saya meskipun sering tertunda-tunda dalam penyusunannya serta jadwal seminar pada saat itu.

Tercapai Juga

My Little Family- My Little Family- My Little Family- My Little Family-My

Putriku bermental berani

Sabtu, 15 Mei 2010

Putriku bermental berani :

Intan Archita Tantisaputri : seorang putri remaja yang lahir pada tanggal 11 Mei 1993 tujuh belas yang lalu di Comal, Pemalang adalah putriku pertama yang sekarang duduk di kelas 2(dua) Ipa di SMA Negeri I(satu) Kota tegal. Intan ini memiliki riwayat dilingkungan temannya dan pendidikan semasa sekolah TK dan SD, yang menurut saya sebagai bapaknya merasa kasihan mengapa....? Suatu ketika saya diterima di Badan Pertanahan Nasional yang ditempatkan di Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Propinsi Sulawesi Tengah, dan saya boyong ke sana masih berumur 7 bulan dia harus berpisah dengan bulik-buliknya yang selalu merawatnya keitka berada di Comal. Sesampainya di rumah kontrakan di Palu, yang sepi dan jauh dengan lingkungan tetangga sehingga menjadikan dia tidak ada atau sedikit teman bermain. Bermainnya hanya dengan ibunya atau saya sepulang kantor. Ketika sebelah rumah kontrakan ada yang menempati yaitu sepasang temanten baru, si Intan sering bermain dengan tetangga tersebut . Terkadang diajak muter-muter dengan sepeda motor berkeliling kota Palu. Pada tahun 1996 setelah adiknya : Aditya Dwi Putranto lahir, Intan berumur 3 tahun, kemudian saya pindah rumah lagi (Pindah karena tugas) di Kabupaten Banggai di luwuk 600 km dari kota Palu. Disana rumah yang saya kontrak jarang ada anak yang sebaya sama dia rata-rata udah pada dewasa. Lagi-lagi teman mainnya sama ibunya dan adiknya yang masih kecil yang baru bisa merayap/merangkak. Pada saat berumur 5 tahun Si Intan disekolahkan pada TK Simpong oleh ibunya. Si Intan di masa kecilnya agak botak / sedikit rambut dikepalanya, mulai banyak mempunyai teman di sekolahan TK Simpong di Luwuk. Pertama masuk di kelas Nol kecil, setahun kemudian naik di nol besar. Kemudian saya membeli rumah di Perumahan KPR/BTN di Desa kilongan 7 km dari kota, tepat di belakang sekolahan SD Kilongan, disamping barat SD berdiri Masjd Kilongan yang hampir jadi. Kemudian si Intan pindah sekolah lagi dan bertemu dengan komunitas teman-temannya yang baru. Selama satu tahun baru merasakan rumah sendiri dan belum selesai rehabnya dan sementara si Intan baru kelas satu SD (baru catur wulan pertama)), di sekolahan tersebut, dan sudah tiga setengah tahun rasanya saya tinggal di luwuk Banggai. Suatu saat ketika permohonan pindah tugas ke jawa yang saya ajukan sebelumnya, di setujui oleh bapak Kakanwil, langsung aja saya kemas-kemas memboyong istri dan anak-anak saya pindah duluan ke jawa yaitu di Ngawi, Jawa Timur ikut numpang di simbah putrinya, sementara saya masih wira-wiri ke BPN pusat mengurus SK. Di sini si Intan pindah lagi sekolah kelas satu (catur wulan ke dua) di SD Teladan Pelem I. Disinilah saya dan istri merasakan kasihan terhadap anak yang tertinggal jauh pelajarannya dengan teman-temannya sementara si Intan baru bisa eja A, I, U, E.....bisanya baru baca Ibu, Budi sementara teman-temannya sudah pada lancar membaca, apalagi pelajaran matematika si Intan anak saya tertinggal jauh. (maklum dari SD di sana ke SD Teladan di Ngawi) . Namun dari gigihnya istri saya dalam mebimbing si Intan, akhirnya bisa mengikutinya. Ketika SK pindah saya sudah ada dan ditempatkan di Kabupaten Tegal di Slawi, si Intan lagi-lagi pindah sekolah masih kelas satu (catur wulan ke tiga) di SD Kudaile VI di kota Slawi. Bolak balik si Intan pindah sekolah. Untungnya bemental baik cepat menyesuaikan diri dengan teman-temannya. Baru-barunya saya, Istri dan anak-anak menempati kontrakan rumah di Perumahan Curuk yang jarak rumah ke sekolahan Intan (SD Kudaile VI) kurang lebih 4 (empat) km, sehingga si Intan bila sekolah saya antar sambil berangkat ke kantor, dan pulangnya saya jemput. Ketika saya terlambat menjemput waktu pulang sekolah, putri saya di sekolahan sudah tidak ada. Saat itu saya sempat bingung...terus saya ngebel istri, menanyakan Intan apa udah sampai rumah.... ternyata belum. Kata saya dalam hati : Apa ya mungkin intan pulang sendiri? Kalau pulang sendiri naik apa? Pertanyaan itu hanya dalam pikiran saya...Sementara alamat rumahpun belum paham. Baru seminggu menempati rumah kontrakan tersebut. Dan Intanpun masih kelas satu belum begitu nalar... setiap ada bergerombol anak menggunakan pakaian seragam merah putih saya dekati sambil lihat-lihat barang kali disitu ada putriku Intan. Dengan pelan-pelan motorku nelusuri jalan menuju rumah sambil tolah toleh kepalaku mencarinya. Ketikasa saya sampai rumah, ternyata putriku sudah sampai dirumah dengan naik becak sendiri..saya sempat kaget dan heran kok berani-beraninya, sedang alamat rumah belum paham, jarak antara sekolah ke rumah 4 km, sementara menempati rumah kontrakan, baru seminggu. Sedang jalan menuju sekolahan, baru sekali dilewati oleh intan. Disitulah mental pemberani putri saya. Setelah selang waktu sesaat sayapun baru menanyakan kepada anak saya ....tanya saya : bagaimana cara dik Intan memberi tahu kepada tukang becak bahwa rumah adik disini? Jawab Intan putri saya : caranya begini pak , bang-bang jalan terus, bang-bang kekiri, bang-bang terus, bang-bang ke kanan begitu pak. Jawabnya saat itu. Begiutlah mental putri saya yang masih Sekolah Dasar baru kelas satu.yang pemberani namun dalam diri saya ada kekawatiran juga karena dia masih kecil dan belum banyak nalar. Saya sampaikan juga pada putri saya jangan diulang lagi ya dik, terus saya cerita tentang adanya orang-orang yang berperilaku jahat dan ada juga orang-orang yang berperilaku baik. Dalam cerita ini saya berikan contoh-contoh kejadian anak hilang.

Cerita lain lagi ketika putri saya pindah sekolah dari kelas 3 SD Kudaile VI naik kelas 4 terus pindah sekolah di SD Mangkukusuman I Kota Tegal. (Catatan : SD Mangkukusuman I ini merupakan SD favorit di kota Tegal) Karena saya pindah rumah sendiri di Mejasem Barat yang lokasinya dekat dengan kota Tegal. SD Mangkukusuman I ini bisa menerima murid pindahan dari SD lain dengan catatan si anak tesebut di tes terlebih dahulu, baik tes tertulis dari 4 mata pelajaran dan interviu tes lisan, dengan syarat rata-rata nilai hasil tes tersebut harus memenuhi standar yang ditentukan yaitu = 7 atau > 7 bila kurang dari itu bisa diterima dengan catatan orang tua murid harus siap membantu belajar anak ketika di rumah. Hasil tes putri saya ini kurang, meskipun di SD sebelumnya mendapatkan ranking 5. Selanjutnya dengan persyaratan tersebut saya dan istri saya menetujui dan sanggup membantu pembelajaran anak ketika di rumah. Akhirnya anak saya diterima di SD tersebut. Tiga bulan pertama putri saya menjalani pembelajaran., Putri saya kaget karena setiap hari harus mengerjakan tugas / Pekerjaan Rumah minimal 10 (sepuluh) soal pada setiap mata pelajaran, bila ada 6 mata pelajaran berati harus mengerjakan 60 jawaban, Begitulah setiap malam harinya. Dengan dibantu oleh istri dalam pembelajarannya dan pekejaannya, anak saya selalu menangis minta pindah sekolah. Putri saya merasa keberatan dengan mengerjakan tugas setiap harinya. Dasar agak malas belajar putri saya yang sulung ini, atau pernah merasakan santai, waktu belajar di Sekolah Dasar sebelumnya. Selama tiga bulan sekolah berjalan, setiap pulang sekolah selalu menangis minta pindah sekolah. Yang membuat saya kawatir ketika malam-malam jam 00,00 putri saya ini sering menangissambil duduk di tangga rumah dengan mengucap minta pindah sekolah. Dalam hati saya sebenanya merasa kasihan tentang putri saya ini. Kemudian saya dan istri saya memberikan semangat / motivasi kepada putri saya ini. Muncul dalam diri saya kekawatiran terhadap efek psikologis si anak itu sendiri bisa-bisa minder atau down dengan teman-temannya. Akhirnya saya menyampaikan keluhannya dan berkonsultasi dengan Kepala Sekolah dan guru-guru yang mengajarnya di sekolahan tersebut. Ternyata apa yang diceritakan guru-guru tersebut kepada saya bahwa putri bapak yang dimaksud Intan, secara mental psikologis di sekolah baik kok , tidak minder terhadap teman-temannya. Lho..mengapa kalau dirumah kok selalu minta pindah?....masalah ini yang menjadi tanda tanya besar bagi saya dan istri. Berhubung Kepala Sekolah dan guru waktu itu yang saya ajak sharing / konsulatasi mengatakan ndak apa-apa pak, teruskan aja...putri bapak baik kok ... jangan dipindahkan. Akhirnya saya tidak jadi memindahkan putri saya tersebut ke lain sekolah. Lama kelamaan putri saya mulai kerasan dan bisa menyesuaikan sedikit demi sedikit mengerjakan tugas-tugasnya. Sepertinya setelah saya amat-amati anak saya ini agak malas , tapi kalau pelajaran atau kegiatan yang disukainya, rajinnya minta ampun sampai-sampai lupa rumah. Semakin ada kemajuan pada putri saya terus naik ke kelas V.......setahun lagi naik ke kelas VI(enam). Ketika dikelas VI(enam), saya dan Istri selalu mengingatkan untuk belajar karena nantinya akan diadakan ujian nasional yang pertama kali diterapkan saat itu. Akhirnya putri saya lulus dengan nilai lumayan lebih dari cukup. Ketika hendak masuk SMPN 1(satu) yang menjadi pilihannya, , karena SMPN 1(satu) tersebut merupakan sekolah yang disiapkan untuk berstandar Internasional (RSBI) maka seleksi penerimaan siswanya melalui tes tertulis pada 4(empat) mata pelajaran. Namun saat itu diadakan 2(dua) kelas yang reguler. Ketika hendak tes / ujian penerimaan siswa SMP, saya dan Istri mengingatkan kepada putri saya untuk belajar biar diterima....kalau nggak belajar nanti tidak diterima lho....Apa jawaban putri saya .... jawabannya : dengan cueknya..yah....ya sekolah di SMP swasta to pak ,bu.... Begitulah ekspresi putri saya seolah tanpa beban. Disinilah orang tua bingung dan stres ingin anaknya bisa sekolah di SMP Negeri, sementara si anak cuek-cuek saja. Namun ketika selesai tes dan selang beberapa hari hasilnya diumumkan, Alhamdulillah anak saya si Intan diterima di SMPN 1(satu) tersebut. Lega rasanya saya dan Istri saya.

Begitu juga setelah lulus dari SMPN 1(satu), mencari dan mendaftar Sekolah Menengah tingkat Atas ( SMA ), saya tanya kepada putri saya : Intan hendak meneruskan di SMA mana? Jawabannya di SMA 3 aja Pak,...Saya tanya lagi.:..kenapa kok nggak di SMAN 1(satu) aja ? ( catatan bahwa SMAN 1 merupakan sekolah favoritnya Kota Tegal dan disiapkan berbasis Internasional / RSBI). Disamping itu jaraknya lebih dekat dengan rumah saya dibandingkan dengan SMAN 3. Saat itu saya tidak ingin memaksakan putri saya ...terserah Intanlah mau kemana asalkan negeri lho kata saya. Lha kok tiba-tiba saya pulang dari kantor dilapori si putri saya bahwa : tadi saya mendaftar sendiri dengan teman-teman untuk mengikuti tes penerimaan siswa di SMAN 1(satu) ... ha!!!, saya terperanjak dan setengah kaget, katanya kemarin, Intan bilang ke SMA 3 saja, .... kata si putri : coba-coba aja pak, siapa tau diterima, dan dia melanjutkan kalimatnya lagi, kalau Intan diterima di SMAN I(satu), bapak mau ngasih hadiah apa? Jawab saya ketika itu : Lha Intan maunya apa? Dia jawab : Hp Nokia seri 5310, ok kalau diterima, bapak belikan jawab saya. Ketika pengumuman hasil tes penyaringan diumumkan, saya berada di Semarang dalam rangka mengikuti rapat di Kanwil BPN Propinsi Jawa tengah di Semarang. Saat itu pula si putri Intan memberikan informasi bahwa saya(Intan) diterima, kemudian melanjutkan lagi bicaranya dan setengah menodong kepada saya, janjinya lho pak jangan lupa Hand Phone. Sepulang dari rapat tersebut kemudian saya mampir ke Matahari Dept Store (Matahari Mall) untuk membelikannya. Akhirnya si putri saya diterima di SMAN 1(satu) kota Tegal .... Alhamdulillah. Yang sampai sekarang anak saya si Intan sudah kelas 2(dua) IPA. Itulah sekedar cerita tentang mental putri saya. Semoga si putri Intan ini menjadi remaja sholihah berguna bagi orang tua , bangsa dan bangsa dikemudian hari.

My Little Family- My Little Family- My Little Family- My Little Family-My

Energi Ramah Lingkungan - Energi Ramah Lingkungan - Energi Ram

Tidak ada entri.
Tidak ada entri.